Arsip Blog

Blogger Play

Sabtu, Januari 03, 2009

Tak PERLU keliling DUNIA: namanya juga bursa efek

Menunggu Holiday Effect atau January Effect
Selasa, 30 Desember 2008 - 10:24 wib


Artikel ini Disajikan oleh Tim BEI

Tahun 2008 sudah ada di penghujung jalan. Tidak lama lagi liburan akan tiba. Anak sekolah bahkan, sudah memasuki masa libur akhir tahun. Begitupun dengan aktivitas di Pasar Modal. Tanggal 30 Desember ini merupakan perdagangan hari terakhir di BEI, selanjutnya pelaku pasar akan menikmati libur panjang hingga 5 Januari 2009.

Masa liburan biasanya selalu disambut dengan sukacita, gembira, dan senyum ceria. Setelah tenggelam dalam rutinitas harian selama satu tahun penuh, maka liburan panjang tutup tahun dan menjelang tahun baru adalah satu kesempatan istirahat yang harus dimanfaatkan sebaik-baiknya, baik oleh investor maupun para profesional pengelola dana (fund manager).

Di pasar Wall Street, fenomena menjelang liburan ini akan semakin semarak. Pasalnya, setiap memasuki hari libur seringkali pasar saham di sana bergerak anomali. Seolah-olah ingin memberikan bekal uang saku bagi mereka yang akan berlibur, harga saham dan indeks harga saham di bursa Wall Street senantiasa bergerak naik cukup signifikan setiap kali akan memasuki hari libur besar seperti tahun baru, hari kemerdekaan (independen day), hari buruh (labour day) dan sebagainya. Begitu kerapnya fenomena ini berulang terjadi, hingga memunculkan sebuah istilah Holiday Effect atau efek liburan.

Fenomena ini menarik perhatian Prof Josef Lakonishok dari Univerisity of Illinois, Urbana Campaign dan Prof Seymour Smidt dari Cornell University, pakar investasi untuk melakukan sebuah penelitian. Melalui penelitian intensif dengan menggunakan data indeks Dow Jones (DJIA) dengan rentang waktu 90 tahun, keduanya sampai pada kesimpulan bahwa Holiday Effect merupakan anomali kedua setelah January Effect. Namun, tidak dijelaskan dengan detil bagaimana fenomena seperti itu bisa terjadi.

Masih dalam konteks Holiday Effect, di Indonesia juga pernah ada satu penelitian tentang fenomena Friday Effect atau Weekend Effect. Namun, fenomena yang terjadi justru agak berlawanan dengan Holiday Effect. Fenomena Weekend Effect di bursa saham Indonesia memperlihatkan adanya kecenderungan terjadinya koreksi pasar.

Dari penelitian itu dijelaskan bahwa kecenderungan terjadinya koreksi pasar menjelang libur akhir pekan disebabkan oleh penyebaran informasi yang tidak merata (asimetris information). Penjelasannya begini. Perubahan atau naik turunnya harga saham di pasar selalu dipengaruhi oleh informasi penting dan relevan. Saat hari Sabtu dan Minggu - dimana pasar libur tidak ada transaksi - pelaku pasar kuatir ada perkembangan informasi yang bisa mengakibatkan turunnya harga saham. Karena itu untuk menghindari ketidakpastian informasi dan mengurangi risiko, pelaku pasar bersikap lebih baik tidak memegang barang (saham, red) saat liburan. Akibatnya mereka melepas saham sehingga harganya di pasar terkoreksi.

Fenomena Holiday Effect di Indonesia ternyata bertolak belakang dengan fenomena yang terjadi di bursa Wall Street. Jika di Wall Street, menjelang masuk liburan harga saham naik, tapi di Indonesia sebaliknya. Namun, penelitian seperti ini agaknya perlu dilakukan lebih intensif sehingga menghasilkan penjelasan yang lebih lugas dan bisa menjadi pegangan bagi pelaku pasar.

Agak berbeda dengan Holiday Effect, fenomena Januari Effect lebih memiliki penjelasan. Anomali harga atau kenaikan harga saham yang sering terjadi di awal Januari bisa dijelaskan sebagai berikut. Fenomena ini masih terkait dengan perlakuan perpajakan.

Menjelang tutup tahun, pada hari-hari terakhir kegiatan transaksi fund-fund manager akan merealisasikan kerugian untuk saham-saham yang dinilai tidak prospektif dalam jangka pendek dan harganya terkoreksi terus. Dengan merealisasi kerugian berarti fund manager memiliki faktor pengurang pajak pendapatan. Fund manager akan membeli kembali (buy back) saham yang dilepasnya pada tahun baru sehingga harganya meloncat kembali.

Penjelasan ini memang agak bertolak belakang dengan penjelasan yang melatarbelakangi terjadinya anomaly window dressing, yakni fenomena naiknya harga saham menjelang berakhirnya tutup buku yang bersamaan dengan tutup tahun. Dalam fenomena window dressing, dikatakan bahwa fund manager sengaja melakukan pembelian saham agar harga saham naik dan nilai portofolionya menjadi lebih indah. Akibatnya harga saham akan naik ketika menjelang tutup tahun.

Jika dirunut lagi, berbagai anomali yang terjadi di pasar apakah itu Holiday Effect ataupun Januari Effect memilih logika yang tidak seirama. Tapi itulah fakta yang kerap terjadi di pasar. Faktanya terjadi, tapi tidak dibangun dengan logika yang memuaskan. Di sisi lain, pelaku pasar selalu inovatif dan penuh inspirasi dengan melahirkan berbagai istilah keren agar enak dinikmati. Selanjutnya terserah Anda menyikapinya: apakah akan menunggu Holiday Effect atau January Effect. (Tim BEI)

(//mbs)

0 komentar:

Kehidupan Tak Biasa

Loading...

Economy News

Kalkulator finansial

Daily chess puzzle

Play online chess